Selasa, Juni 25, 2024

Tiga Spesies Baru Begonia dari Kalimantan Dibukukan

DINDANEWS, PONTIANAK – Sebanyak lima orang peneliti botani kembali membukukan tiga spesies baru Begonia dari Kalimantan. Penemuan genus dalam keluarga tanaman berbunga Begoniaceae ini mengagetkan publik setelah sekian lama luput dari pantauan radar ilmu pengetahuan.

Ketiga spesies baru itu adalah Begonia sangkulirangensis (2015), Begonia kapuashuluensis (2017), dan Begonia patar (2020). Hal ini terungkap dari publikasi sebuah situs bernama Researchgate.

Situs jejaring ilmuan di dunia ini menerbitkan artikel ilmiah berjudul Three new species, one new record and an updated checklist of Begonia (Begoniaceae) from Kalimantan, Indonesia pada 4 Februari 2022. Satu spesies dengan rekor baru dalam artikel ilmiah tersebut adalah Begonia belagaensis (2015).

Agusti Randi, satu dari sejumlah peneliti yang fokus di bidang taksonomi tumbuhan, ekologi, dan konservasi di Indonesia ini mengatakan bahwa temuan tersebut melibatkan sejumlah peneliti.

Mereka di antaranya adalah dua peneliti dari BRIN (Wisnu Ardi dan Deden Girmansyah), satu peneliti dari Herbarium Samboja, Kaltim, dan satu ahli Begonia (Mark Hughes) dari Royal Botanic Garden Edinburgh, Skotlandia.

Sepanjang pengamatan Agusti Randi yang telah menghasilkan lebih dari 50 publikasi ilmiah ini, penelitian Begonia di Kalimantan belum pernah dilakukan secara intensif. Hanya saja beberapa ekspedisi Begonia di Kaltim dan Kalbar pernah dilakukan sebelumnya. Termasuk pada publikasi ini merupakan bagian dari ekspedisi di Kalbar dan Kaltim.

Pria yang akrab disapa Randi ini menyebut ketiga spesies Begonia baru tersebut tidak didapatkan dalam sekali penelitian.

“Ini adalah kumpulan dari hasil berbagai perjalanan lapangan,” kata Randi, Sabtu (5/2/2022) di Pontianak.

Sebagai contoh Begonia sangkulirangensis, kali pertama ditemukan pada 2015 dalam keadaan tidak berbunga. Setelah sampel hidupnya ditanam di Kebun Raya Bogor berbunga pada akhir 2019, barulah spesies endemik pegunungan kapur di Sangkulirang ini berhasil dideskripsikan sebagai spesies baru. Sedangkan Begonia kapuashuluensis ditemukan pada tahun 2017, dan Begonia patar pada 2020.

Penamaan Begonia patar diangkat dari nama lokal suku Dayak Desa yang tinggal di Rumah Betang Ensaid Panjang, Kabupaten Sintang, Kalbar. Nama patar dalam bahasa setempat artinya motif warna yang bervariasi. Hal ini merujuk pada variasi warna dari daun Begonia patar.

Selain itu, Randi menyebut Begonia patar ini juga merupakan tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat rumah betang sebagai bahan campuran dalam membuat ramuan tradisional. Ramuan ini dipercaya berkhasiat untuk melindungi ibu dan bayi pasca dilahirkan dari gangguan makhluk halus.

Selain itu, Begonia patar juga dimanfaatkan sebagai bahan campuran yang dipercaya mengobati sakit kepala.

Lebih jauh pria kelahiran Pontianak 33 tahun lalu ini menjelaskan, di bagian utara Pulau Borneo (Sarawak dan Sabah) memiliki lebih banyak spesies Begonia dikarenakan koleksi Begonia telah dimulai sejak lama.

“Banyak koleksi tua dari sana yang umurnya sudah lebih dari seratus tahun,” ucap Randi.

Kendati Kalimantan punya area dan hutan yang jauh lebih besar, kata alumni Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura dan Institut Pertanian Bogor ini, kita tidak pernah ada koleksi Begonia liar sama sekali.

Pada 2018 saja, jumlah spesies Begonia di seluruh Kalimantan hanya ada lima spesies. Sangat kontras dengan yang ada di bagian utara (Sarawak dan Sabah) yang sudah memiliki ratusan spesies Begonia endemik.

“Ini sangat memprihatinkan bagi saya sebagai putra asli Kalimantan. Alhamdulillah empat tahun berselang, jumlah spesies Begonia endemik Kalimantan (Borneo bagian Indonesia) naik cukup signifikan dan sudah mencapai 30 spesies. Angka ini sudah melampaui jumlah spesies Begonia di Brunei Darussalam dengan 21 spesies,” ucap Randi.

Dia berharap ke depan lebih banyak lagi eksplorasi mengenai Begonia di Kalimantan. Hal ini merujuk pada jumlah temuan spesies yang diperkirakan masih kurang, bahkan di bawah 10 persen dari jumlah perkiraan di habitat aslinya.

Ini sekaligus membuka peluang besar bagi siapa saja untuk menemukan spesies baru Begonia di seluruh wilayah Kalimantan.

“Anak-anak muda harusnya berani mengeksplorasi dan mengungkap spesies baru lewat publikasi ilmiah demi kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia,” tutup Randi.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *