Jumat, Februari 23, 2024

Sosok Sungadi Remaja Obesitas 165 Kilogram yang Rajin Dan Semangat Bekerja 

Ia merupakan anak bungsu dari pasangan Suwarno (63) dan Tukiyem (61), mereka menjelaskan bahwa Sungadi sudah menghadapi obesitas sejak lahir

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini
Sungadi Remaja Obesitas 165 Kilogram (kolase dnews)
Sungadi Remaja Obesitas 165 Kilogram (kolase dnews)

PONTIANAK- Sosok Sungadi Remaja Obesitas 165 Kilogram yang Rajin Dan Semangat Bekerja.

Kisah viral seorang remaja bernama Sungadi (25) dari Dukuh Jurang, Desa Sono, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, telah menghebohkan jagat media sosial belakangan ini. 

Meskipun menghadapi tantangan obesitas, Sungadi telah mencuri perhatian banyak orang di YouTube dan WhatsApp karena semangatnya yang luar biasa dalam bekerja sebagai kuli bangunan.

Dengan berat badan mencapai 165 kilogram dan tinggi badan hanya 149 cm, Sungadi merupakan sosok yang unik dan menginspirasi banyak orang di sekitarnya. 

Ia merupakan anak bungsu dari pasangan Suwarno (63) dan Tukiyem (61), mereka menjelaskan bahwa Sungadi sudah menghadapi obesitas sejak lahir. 

Bahkan, Sungadi lahir dengan berat badan 5 kilogram kurang 2 ons.

Dari masa kecilnya, Sungadi telah menunjukkan minat yang besar terhadap makanan.

Ia bisa mengonsumsi 6-8 porsi makanan dalam sehari, dengan selera yang sangat baik terhadap hidangan yang disajikan oleh orang tuanya. 

Meski tumbuh dengan kondisi obesitas, Sungadi tetap menunjukkan keceriaan dan kesehatan yang mengagumkan. Ia sering berjalan-jalan di sekitar lingkungan dan bersosialisasi dengan tetangganya.

Suwarno, ayah Sungadi, menyebut putranya sebagai sosok yang rajin dan bersemangat. Ia bahkan terlibat aktif membantu warga dalam proyek-proyek pembangunan, seperti mendorong angkong berisi adonan semen dan membantu memasang genting serta membangun talut. 

“Anaknya memang rajin, kuat mendorong angkong yang diisi adonan semen itu, membantu menaikkan genting, ikut membantu membangun talut itu sampai selesai,” ungkap Suwarno.

Kisah Sungadi semakin menarik karena ia jarang mengalami sakit, kecuali hanya mengalami batuk dan pilek sesekali. Meskipun menghadapi keterbatasan berbicara dan tidak pernah mengenyam pendidikan formal dari SD hingga SMA, Sungadi tetap menjalani kehidupannya dengan semangat dan antusiasme yang tinggi. 

Saat ini Ia hanya mengonsumsi dua kali makan sehari di rumah, namun sering kali memilih membeli makanan di luar.

Namun, kepala desa setempat, Parjiyo, menyatakan bahwa ia hanya dapat memantau kesehatan Sungadi dari jauh. Sungadi selalu menolak untuk diperiksa ketika petugas datang dengan ambulans. (Ain)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini
What to read next...