Jumat, Juni 14, 2024

PT BGA Group Jadi ‘Pahlawan Hitam’

DINDANEWS, KETAPANG – Perusahaan sawit di Kabupaten Ketapang, Bumitama Gunajaya Agro (PT BGA Group) semula hadir sebagai pahlawan.

Ternyata PT BGA Group malah menjadi ‘pahlawan hitam’, merampas hak-hak warga Kabupaten Ketapang, baik secara langsung maupun tidak.

Kades Pengatapan Raya Toro mengisahkan, pada 2016 lalu ia mewakili warga mengurus persoalan dengan PT Benua Indah Grup (BIG).

Saat itu, menurut Toro, akses jalan dan semua perekonomian masyarakat lumpuh, karena PT BIG tidak beroperasional lagi.

“Kami sudah seringkali ikut menawarkan kepada investor agar bersedia membeli PT BIG yang sudah tidak beroperasi. Tetapi semua mundur,” cerita Toro yang saat itu belum menjadi Kades.

Akhirnya Toro bertemu dengan Kamsen dari PT BGA Group. “Kami berbincang-bincang agar dia mau membeli bekas PT BIG,” katanya.

Awalnya PT BGA Group agak berat membeli PT BIG, karena harga lelangnya cukup besar. Sementara kondisi perkebunannya sudah hancur dan banyak masalah sosial.

“Tetapi karena mereka PT BGA Group ini membawa misi kemanusiaan, akhirnya mau membeli PT BIG,” kata Toro.

Saat itu kondisi masyarakat sangat susah, seperti tinggal di kampung mati karena tidak ada perputaran uang, perekonomian lumpuh.

“Mungkin kalau tidak dibeli PT BGA Grup, kampung kami sudah menjadi hutan lagi,” ucap Toro.

Proses Lelang PT BIG

Toro mengikuti proses perjuangan memulihkan kondisi masyarakat ini, termasuk proses lelang PT BIG di Pengadilan Negeri (PN) Ketapang.

“Pada saat itu peserta lelangnya tunggal, hanya BGA Grup. Perusahaan lain tidak ada yang mau ikut,” ungkap Toro.

Saat proses lelang PT BIG, Toro dan beberapa perwakilan warga juga ikut mengawal survei ke lapangan atau areal perkebunan.

Termasuk bersama BPN dan instansi terkait mengecek wilayah Sertifikat HGU PT BIG yang diagunkan ke Bank Mandiri. Hasilnya tidak ada masalah hingga BGA Grup menang lelang.

Namun, lanjut Toro, ketika ada program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL), ternyata masyarakat tidak bisa membuat sertifikat tanahnya.

Toro dan warga lainnya terkejut mengetahui alasan mereka tidak bisa membuat sertifikat tanah lantaran masuk HGU PT BGA Grup, tidak sesuai dengan pengecekan dan pengukuran saat lelang.

“Jadi rumah dan tanah kami, sekolah, tempat ibadah dan lainnya banyak dikatakan masuk dalam HGU PT BGA Group,” kata Toro.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *