Sabtu, Juni 15, 2024

Profil Xinyi Grup, Perusahaan Investor Di Kawasan Rempang Eco City 

Bahlil mengatakan bahwa jika investasi ini terwujud, maka Xinyi Grup, perusahaan asal China, akan menjadi yang terbesar di Indonesia

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini
pulau Rempang di Batam, Kepulauan Riau (kolase dnews)
pulau Rempang di Batam, Kepulauan Riau (kolase dnews)

PONTIANAK- Profil Xinyi Grup, Perusahaan Investor Di Kawasan Rempang Eco City 

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, pada bulan Juli lalu, mengumumkan rencana investasi Xinyi Grup di Kawasan Rempang Eco City di Batam, Kepulauan Riau. 

Sebelumnya, Bahlil telah mengunjungi kantor perusahaan tersebut di Wuhu, Cina.

Dalam pernyataannya, Bahlil mengatakan bahwa jika investasi ini terwujud, maka Xinyi Grup, perusahaan asal China, akan menjadi yang terbesar di Indonesia. 

Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan potensi komoditas pasir kuarsa dan silika yang melimpah di dalam negeri dengan baik. 

Investasi ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di Kawasan Asia Tenggara dan mendukung implementasi Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam. 

Menurut Bahlil, Konsep pengembangan Rempang Eco City juga menekankan lingkungan hijau, yang sejalan dengan upaya menjadikan Batam sebagai kota hijau.

Pada 12 April 2023, Pengembangan Kawasan Investasi Rempang resmi diluncurkan dengan PT Makmur Elok Graha (MEG) sebagai pengembangnya. Total investasi mencapai Rp381 triliun, dengan potensi menyerap hingga 308.000 tenaga kerja.

Namun, pembangunan Rempang Eco City menghadapi kendala ketika warga setempat menolak proyek tersebut. Pada 7 September 2023, aparat gabungan TNI, Polri, dan BP Batam terlibat bentrok dengan warga yang menolak digusur. 

Berikut profil perusahaan investor Xinyi Grup

Badan Pengusahaan, atau BP Batam, telah memastikan bahwa pengembangan proyek di Pulau Rempang telah diakui sebagai bagian dari Daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk tahun 2023. 

Proyek ini memiliki nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp 381 triliun hingga tahun 2080.

Keputusan ini tercatat dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Nomor 7 Tahun 2023 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Nomor 7 Tahun 2021 yang mengatur tentang perubahan dalam Daftar Proyek Strategis Nasional.

Proyek pengembangan Rempang ini akan dilakukan oleh Xinyi Group, sebuah perusahaan multinasional yang berbasis di Hong Kong dan memiliki operasi di 130 negara. 

Xinyi Group dikenal sebagai salah satu produsen kaca terbesar di dunia dengan berbagai produk kaca yang digunakan dalam sektor otomotif, konstruksi, dan energi.

Xinyi Group berencana untuk membangun fasilitas hilirisasi pasir kuarsa atau pasir silika di kawasan Rempang Eco City. 

Selain proyek di Rempang, Xinyi Group juga telah memulai operasinya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE. 

Mereka membeli lahan di KEK tersebut dari PT BKMS. Dalam kerja sama yang telah dibangun sejak tahun sebelumnya, Xinyi juga telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan BKMS untuk menyediakan berbagai utilitas termasuk listrik, air, gas alam, pengolahan limbah, fasilitas telekomunikasi, internet, serta infrastruktur dan fasilitas lainnya yang diperlukan untuk mendukung pembangunan dan pengoperasian fasilitas produksi kaca di KEK JIIPE. 

Selain itu, Xinyi juga telah menandatangani MOU dengan PT Berlian Manyar Sejahtera (BMS), yang mengoperasikan fasilitas pelabuhan laut dalam di KEK JIIPE, untuk mendukung fasilitas pelabuhan dan terminal berkualitas tinggi yang diperlukan oleh fasilitas produksi kaca Xinyi. (Ain)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini
What to read next...