Sabtu, Juni 22, 2024

Profil PT Vale Indonesia, Raksasa Nikel yang Tengah Ramai Penolakan Perpanjangan Kontraknya di Twitter

Berbagai alasan penolakan pun muncul, PT Vale dianggap kurang memberikan kontribusi untuk daerah yang ditambangnya

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini
salah satu alat berat di PT Vale Indonesia (foto-IST)
salah satu alat berat di PT Vale Indonesia (foto-IST)

PONTIANAK- Profil PT Vale Indonesia, Raksasa Nikel yang Tengah Ramai Penolakan Perpanjangan Kontraknya di Twitter

Media sosial Twitter tengah diramaikan dengan isu penolakan perpanjangan kontrak perusahaan tambang asal Brazil PT Vale Indonesia.

Dengan tagar #BatalkanKontrakKerjaVale, netizen menyuarakan penolakan terhadap raksasa nikel tersebut dan telah terbit hampir 4 ribu tweet pada Kamis, 13 Juli 2023.

Perlu diketahui, bahwa kontrak PT Vale di Indonesia akan berakhir pada Desember 2025 mendatang.

Berbagai alasan penolakan pun muncul, PT Vale dianggap kurang memberikan kontribusi untuk daerah yang ditambangnya.

Selain itu, meski sudah beroperasi 54 tahun di Indonesia, PT Vale minim melibatakan tenaga kerja lokal di bagian penting.

Profil PT Vale Indonesia

Perusahaan pertambangan besar asal Brazil ini telah beroperasi di Indonesia, yang merupakan produsen nikel terbesar di dunia, sejak tahun 1968.

Perusahaan dengan kode saham INCO itu fokus pada kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel di Indonesia. 

Saat ini, Vale Indonesia memiliki kontrak karya yang memungkinkannya beroperasi di lahan seluas 118.017 hektar.

Sebagian besar lahan tersebut terletak di Sulawesi Selatan, tetapi juga tersebar di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.

Kegiatan operasional Vale Indonesia berpusat di Sorowako, sebuah desa di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Desa ini menjadi lokasi fasilitas pengolahan nikel perusahaan tersebut. Diperkirakan bahwa desa ini memiliki cadangan nikel terbukti sebanyak 61,9 juta ton.

Pemerintah Indonesia memiliki 20% saham Vale Indonesia melalui perusahaan induk pertambangan milik negara, MIND ID. 

Vale Canada mengendalikan 43,79% saham, perusahaan pertambangan Jepang, Sumitomo Metal Mining, mengendalikan 15,03%, dan sisanya dikuasai oleh masyarakat umum.

Selain itu, pemerintah berencana untuk mengambil alih sekitar 51% saham Vale Indonesia melalui perusahaan pelat merah. 

Divestasi saham ini menjadi persyaratan bagi perusahaan seperti Vale Indonesia untuk mendapatkan izin usaha pertambangan khusus (IUPK). (Gil)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini
What to read next...