Sabtu, Juni 22, 2024

Profil AM Hendropriyono, Eks Menteri Kabinet BJ Habibie yang di Tuding Punya Hubungan Dekat Dengan Panji Gumilang

Hendropriyono menjelaskan bahwa pertemuan pertamanya dengan Panji Gumilang terjadi pada tahun 1999 ketika Panji meminta Presiden ke-3, BJ Habibie

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini
AM Hendropriyono (foto-IST)
AM Hendropriyono (foto-IST)

PONTIANAK- Profil AM Hendropriyono, Eks Menteri Kabinet BJ Habibie yang di Tuding Punya Hubungan Dekat Dengan Panji Gumilang

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono, menjelaskan terkait tuduhan bahwa ia merupakan sosok yang membekingi Panji Gumilang dan punya hubungan yang dekat. 

Hendropriyono menjelaskan bahwa pertemuan pertamanya dengan Panji Gumilang terjadi pada tahun 1999 ketika Panji meminta Presiden ke-3, BJ Habibie, untuk meresmikan Pondok Pesantren Al Zaytun. 

Saat itu, Hendropriyono menjabat sebagai Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan.

Hendropriyono menyatakan bahwa pada saat sidang kabinet, Menteri Agama yang ditunjuk oleh BJ Habibie untuk menyelidiki Al Zaytun menjelaskan bahwa Pondok Pesantren tersebut tidak memiliki masalah secara ideologi politik. 

Setelah itu, BJ Habibie datang ke Al Zaytun untuk meresmikan Pondok Pesantren tersebut. 

Namun, setelah itu, Hendropriyono mengaku tidak lagi mengetahui perkembangan Al Zaytun.

Lantas Siapa sebenarnya AM Hendropriyono?

Abdullah Makhmud Hendropriyono, merupakan tokoh ternama di Indonesia, lahir di Yogyakarta pada tanggal 7 Mei 1945. 

Pendidikan Hendropriyono dimulai dari Sekolah Rakyat Muhammadiyah di Kemayoran, Jakarta, dari tahun 1949 hingga 1955.

Ia melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri V, Jakarta (1955-1958), dan SMA Negeri II, Jakarta (1958-1961). 

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Militer Nasional, Magelang, dan berhasil lulus pada tahun 1967.

Karir militernya dimulai sebagai Komandan Peleton dengan pangkat Letnan Dua Infanteri di Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), yang sekarang dikenal sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD.

Selanjutnya, Hendropriyono meraih jabatan sebagai Danrem 043/Garuda Hitam, di mana ia berhasil mengamankan Peristiwa Talangsari 1989 di Lampung. 

Selain itu, ia terlibat dalam berbagai operasi militer seperti Gerakan Operasi Militer (GOM) VI, Operasi Sapu Bersih III, dan Operasi Seroja di Timor Timur.

Puncak karir militer Hendropriyono adalah saat ia dipercaya menjadi Panglima Kodam Brawijaya sebelum akhirnya pensiun dari militer dengan posisi terakhir sebagai Komandan Pendidikan dan Pelathian (Kodiklat) TNI AD.

Tak hanya memiliki prestasi di medan tempur dan teritorial, Hendropriyono juga memiliki kemampuan luar biasa di bidang intelijen. 

Ia menjabat di bagian intelijen selama hampir 9 tahun di satuan Angkatan Darat. 

Setelah pensiun dari dinas militer, ia dipilih sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). 

Selama kepemimpinannya di BIN, Hendropriyono mengusulkan pendirian Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di Sentul, Bogor, Jawa Barat. 

Karena keahliannya di bidang intelijen, ia dijuluki sebagai “jenderal intelijen” dan menjadi profesor intelijen pertama di Indonesia setelah meraih gelar akademik tersebut dari STIN. 

Prestasinya bahkan tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).

Sebelum menjadi Kepala BIN, Hendropriyono juga telah menduduki berbagai posisi birokrat dan eksekutif. 

Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan, Menteri Transmigrasi dan Permukiman Perambah Hutan, dan Menteri Tenaga Kerja. 

Setelah tidak lagi menjabat di jabatan eksekutif, Hendropriyono terlibat dalam dunia usaha dan politik. 

Ia mendirikan kantor pengacara bernama Hendropriyono and Associates. 

Pada tahun 2016, ia bergabung dengan Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI) dan terpilih sebagai ketua umum PKPI untuk berpartisipasi dalam Pemilihan Umum 2019.

Namun, setelah dua tahun menjabat, Hendropriyono memutuskan untuk menyerahkan kepemimpinan PKPI kepada generasi muda. 

Anaknya, Diaz Hendropriyono, terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum PKPI melalui Kongres Luar Biasa yang diselenggarakan pada tanggal 13 Mei 2018.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini
What to read next...