Senin, Juni 17, 2024

Harus Masif Fasilitasi Literasi Keuangan Digital

DINDANEWS, JAKARTA – Untuk menghindari praktik-praktik penipuan berkedok investasi, Pemerintah harus masif memfasilitasi literasi keuangan digital.

“Terlebih kepada anak-anak muda yang sedang gandrung dengan aset digital, mata uang digital, kripto dan sebagainya,” kata Ketua DPR RI Puan Maharani dalam siaran persnya, Senin 7 Maret 2021.

Puan Maharani menilai, banyak pelaku kejahatan memanfaatkan budaya keuangan digital yang sedang marak.

Sebab, jelas Puan, kini bisnis digital bukan lagi menjadi peluang usaha. Tetapi sedikit banyak telah menjadi gaya hidup kelompok-kelompok tertentu.

“Literasi penting untuk mencegah terjadinya berbagai kasus penipuan berkedok investasi. Terlebih dengan melibatkan sejumlah publik figur sebagai influencer,” kata Puan

Berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2019, indeks literasi keuangan di Indonesia 38,03 persen.

Dengan hasil survei itu artinya baru sekitar 108 juta dari 285 juta penduduk Indonesia yang melek keuangan.

Pun demikian, belum dapat dipastikan apakah 108 juta orang yang sudah melek keuangan itu juga telah melek digital.

Olehkarenanya, kata Puan, Pemerintah mesti lebih banyak menyediakan berbagai sarana literasi keuangan digital. Lantaran kini teknologi digital sudah melingkupi banyak aspek kehidupan.

Literasi digital sangat penting sebagai langkah pencegahan. Lantaran pengungkapan dan penindakan master mind penipauan digital sangat sulit.

“Karena melibatkan para pelaku lintas negara tanpa menggunakan identitas asli,” jelas Puan.

Adapun literasi digital yang penting untuk digenarkan, menurut Puan, terkain manajemen resiko. Supaya masyarakat ingat bahwa investasi itu pasti memiliki risiko, sekecil apapun itu.

“Seluruh masyarakat Indonesia, jangan mudah percaya dengan tawaran investasi dengan iming-iming tanpa risiko dan dengan keuntungan diluar batas kewajaran,” imbau Puan.

Tingkatkan Pengawasan

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan OJK, kata Puan, mesti meningkatkan pengawasan, karena belakangan ini kasus penipuan semakin marak.

“Bappebti dan OJK harus terus aktif mengawasi perdagangan berjangka komoditi dan juga kegiatan jasa sektor keuangan,” pinta Puan.

Pemanfaatan bisnis digital, kata Puan, perlu sebagai wadah untuk menyalurkan peluang investasi industri digital.

Namun, pengetahuan dan keterampilan harus menjadi modal, supaya dapat memahami manfaat dan risiko dari produk dan jasa keuangan.

“Apalagi pembatasan pergerakan manusia di masa pandemi Covid-19 membuat transaksi digital makin diminati dan makin dibutuhkan,” kata Puan.

“Kesadaran masyarakat terhadap literasi keuangan digital ditambah gencarnya sosialisasi dari pihak berwenang harus dilakukan maksimal,” sambungnya.

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *