Rabu, Juni 19, 2024

Fenomena Hari Tanpa Bayangan Di Kota Pontianak, Terjadi Pada September 2023

Fenomena hari tanpa bayangan, atau yang juga dikenal sebagai kulminasi, terjadi ketika Matahari berada tegak lurus di atas

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini
Fenomena Hari Tanpa Bayangan Di Kota Pontianak yang di rayakan di Tugu Khatulistiwa (kolase dnews)
Fenomena Hari Tanpa Bayangan Di Kota Pontianak yang di rayakan di Tugu Khatulistiwa (kolase dnews)

PONTIANAK- Fenomena Hari Tanpa Bayangan Di Kota Pontianak, Terjadi Pada September 2023

Indonesia, dengan letak geografisnya yang berada antara 6 derajat Lintang Utara (LU) hingga 110 Lintang Selatan (LS) dan membelah garis khatulistiwa (0 derajat), memiliki kondisi geografis yang unik. 

Keunikan ini memungkinkan Matahari berada tepat di atas kita pada suatu titik tertentu, menciptakan fenomena yang dikenal sebagai “hari tanpa bayangan.”

Fenomena hari tanpa bayangan, atau yang juga dikenal sebagai kulminasi, terjadi ketika Matahari berada tegak lurus di atas lokasi tertentu. 

Hal ini disebabkan oleh posisi geografis Indonesia yang melintasi lintang geografis yang sama dengan deklinasi Matahari pada periode tertentu. 

Fenomena ini menjadi menarik karena selama beberapa waktu dalam sehari, bayangan benda-benda di bawah Matahari menjadi sangat pendek atau bahkan tidak ada sama sekali.

Pada tahun 2023, fenomena kulminasi Matahari ini terjadi di Indonesia termasuk di Kota Pontianak yang akan berlangsung mulai dari tanggal 21-26 September yang di ikuti dengan Perayaan berbagai kegiatan.

Waktu dan durasi fenomena ini bervariasi tergantung pada letak geografis masing-masing daerah di Indonesia. 

Di Kota Pontianak, fenomena hari tanpa bayangan dapat diamati dengan jelas.

Menurut Periset Pusat Riset Antariksa BRIN, Andi Pangerang, fenomena ini terjadi karena nilai deklinasi Matahari pada periode tersebut akan sama dengan lintang geografis wilayah Indonesia. 

Akibatnya, Matahari akan berada tepat di atas kepala, menciptakan efek hari tanpa bayangan yang menarik.

Hari tanpa bayangan sendiri terjadi dua kali setahun untuk daerah yang berada di antara Garis Balik Utara (Tropic of Cancer; 23,4O LU) dan Garis Balik Selatan (Tropic of Capricorn; 23,4O LS), serta di sekitar garis khatulistiwa. 

Kota Pontianak, sebagai salah satu lokasi yang berada dekat dengan garis khatulistiwa, juga mengalami fenomena ini. Setiap tahun, tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September menjadi momen yang dikenal sebagai hari tanpa bayangan di Pontianak.

Kulminasi Matahari ini telah menjadi salah satu brand unggulan Kota Pontianak yang terus dilestarikan. 

Merayakan fenomena ini, beberapa tamu undangan biasanya berkumpul di Tugu Khatulistiwa, sebuah monumen yang menjadi simbol penting di Kota Pontianak. 

Di sana, mereka menandai detik-detik menjelang Matahari berada tepat di atas garis Khatulistiwa dengan mendirikan telur-telur secara tegak. 

Fenomena alam ini membuat telur-telur berdiri tegak tanpa bayangan, menciptakan pemandangan yang menakjubkan.

Selain itu, acara ini juga diisi dengan kegiatan tarian budaya dan berbagai kegiatan lainnya yang menarik perhatian wisatawan. 

Dengan fenomena kulminasi Matahari yang unik ini, Kota Pontianak terus mengundang pengunjung untuk merasakan pengalaman yang tidak biasa dan memahami lebih dalam tentang keajaiban alam dan budaya Indonesia. (Ain)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini
What to read next...