Jumat, Juni 14, 2024

3 Puisi Karya Widji Thukul yang Terkenal Sebagai Simbol Perlawanan Tentang Keadilan dan Kebebasan

Widji Thukul, yang memiliki nama lengkap Widji Widodo, adalah seorang penyair dan pembela hak asasi manusia asal Indonesia

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini
Wiji Thukul (kolase dnews)
Wiji Thukul (kolase dnews)

PONTIANAK- 3 Puisi Karya Widji Thukul yang Terkenal Sebagai Simbol Perlawanan Tentang Keadilan dan Kebebasan

Nama Wiji Thukul telah lama menjadi simbol perlawanan dan kepahlawanan dalam dunia sastra dan aktivisme di Indonesia. 

Widji Thukul, yang memiliki nama lengkap Widji Widodo, adalah seorang penyair dan pembela hak asasi manusia asal Indonesia. 

Puisi-puisi dan tindakan pemberani Thukul menghadapi rezim Orde Baru yang represif telah menjadikannya ikon perjuangan, namun sayangnya, sejak tanggal 27 Juli 1998, Thukul menghilang tanpa jejak dan nasibnya masih misterius hingga saat ini. 

Spekulasi pun bermunculan, mengindikasikan kemungkinan keterlibatan militer dalam penculikannya bersama beberapa rekan aktivis lainnya.

Bahkan setelah era reformasi, kata-kata puitis Wiji Thukul terus bergema sebagai semangat perjuangan dan perlawanan bagi para aktivis dari berbagai sektor. 

Slogan yang terkenal dari Thukul, “Hanya satu kata: lawan!” telah menjadi mantra bagi mereka yang terus berjuang demi keadilan dan kebebasan.

Perjalanan kiprah Thukul di dunia sastra dimulai sejak masa sekolah dasar, dan minatnya pada dunia teater berkembang saat dia bersekolah di tingkat menengah pertama. 

Bersama dengan kelompok Teater Jagat, ia bahkan pernah tampil di berbagai tempat dengan membawakan puisi-puisi, menyebarkannya di kampung dan kota-kota.

Terdapat tiga puisi karya Thukul yang telah menjadi sangat terkenal dan menjadi bahan wajib dalam berbagai aksi protes, yaitu “Peringatan,” “Sajak Suara,” dan “Bunga dan Tembok.” 

Ketiga puisi ini diabadikan dalam antologi berjudul “Mencari Tanah Lapang,” yang diterbitkan oleh Manus Amici di Belanda pada tahun 1994.

Walaupun tubuhnya menghilang, semangat dan karya-karya Wiji Thukul terus hidup dalam jiwa para pejuang hak asasi manusia dan para pemerhati sastra. 

Puisi-puisinya yang menggelora masih menjadi pendorong semangat untuk melawan ketidakadilan dan penindasan, menjadikan Thukul sebagai inspirasi abadi bagi mereka yang berjuang demi masa depan yang lebih baik.

Berikut 3 puisi karya Wiji Thukul yang paling fenomenal hingga saat ini :

Bunga dan Tembok

Solo, 87-88

Seumpama bunga

kami adalah bunga yang tak

kau kehendaki tumbuh

engkau lebih suka membangun

rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga

kami adalah bunga yang tak

kaukehendaki adanya

engkau lebih suka membangun

jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga

kami adalah bunga yang

dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga

engkau adalah tembok

tapi di tubuh tembok itu

telah kami sebar biji-biji

suatu saat kami akan tumbuh bersama

dengan keyakinan: engkau harus hancur!

di dalam keyakinan kami

di mana pun – tiran harus tumbang!

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan Berita Ini
Pages ( 1 of 2 ): 1 2Selanjutnya »
What to read next...